Syaiful Rahman

Syaiful Rahman adalah editor dan trainer MediaGuru. Saat ini baru menulis 14 buku. Ia dapat dihubungi melalui syaiful@gurusiana.id atau 081915522463....

Selengkapnya

Utamakan Kuantitas, Sebelum Kualitas

Mungkin sebagian dari pembaca kurang sepakat dengan judul di atas. Kalau ditanya, manakah yang lebih penting antara kuantitas dan kualitas? Tentu sebagian besar akan mengatakan, kualitaslah yang lebih penting. Tapi, dalam dunia demokrasi, kuantitaslah yang lebih penting sebelum kualitas. Mengapa? Sebaik apa pun kandidat kita, kalau jumlah pemilihnya sedikit, tentu tidak akan menang dalam konstestasi pencalonan.

Ups! Jadi, melebar ke pencalonan. Ini gara-gara terbawa suasana pemilihan kepala daerah. Ah, lupakan soal pilkada. Mari kita fokus pada dunia kepenulisan, dunia upaya untuk mencerdaskan generasi masa depan, dunia yang penuh pembangunan tanpa banyak berwacana, dunia yang lebih mengutamakan kerja dan bukti daripada sekadar omongan.

Baiklah, kita kembali pada pembahasan antara kuantitas dan kualitas dalam dunia kepenulisan. Apakah dengan demikian kualitas tidak begitu penting? Bukan begitu. Tentu saja kualitas sangat penting. Kualitas sebuah karya sangat menentukan nasib karya tersebut.

Kita bisa melihat sejumlah karya yang abadi sampai berabad-abad lamanya meski penulisnya sudah meninggal? Di dunia politik kita mengenal buku Il Principe karya Niccolo Machiavelli. Buku yang ditulis sekitar abad ke-15 M ini berbicara masalah teori politik. Sampai sekarang, buku ini masih diganderungi dan dijadikan referensi penting. Padahal sekarang sudah abad gadget.

Di dunia Islam, kita sangat tidak asing dengan karya monumental berjudul Ihya' Ulumuddin milik Imam Al-Gazali. Karya yang ditulis sekitar abad ke-5 H atau ke-10 M ini masih menjadi kitab penting di kalangan umat Islam. Penerbit tidak henti-hentinya memperbarui karena pesanan masih berdatangan. Para cendikiawan pun terus melakukan penelitian, rangkuman, pengutipan, kritik, atau pengembangan terhadap kitab ini. Alhasil, popularitas kitab ini semakin tinggi.

Tentu masih banyak karya-karya berkualitas yang tetap ada hingga saat ini. Karya proklamator kita Ir. Soekarno masih diproduksi dan dibaca oleh masyarakat sampai sekarang. Sebut saja Di Bawah Bendera Revolusi, Islam Sentoloyo, dan sebagainya. Karya-karya tersebut menjadi salah satu bahan bacaan yang masih diganderungi masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, kualitas karya sangat penting. Itu tidak bisa dimungkiri. Namun, pertanyaan pertama saya adalah apa indikator kualitas sebuah karya? Best seller? Masa keterbacaannya sampai berabad-abad? Atau apa? Ternyata, kita memiliki perspektif berbeda-beda mengenai indikator kualitas sebuah karya ini.

Bahkan predikat best seller pun tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan kualitas. Best seller lebih cenderung menjadi identitas pasar. Artinya, karya yang ditentukan pasar, bukan sebaliknya. Apalagi usia keterbacaan, ini juga masih menjadi pro kontra. Buku Il Principe berisi teori politik yang amat keras. Konon pemimpin diktator Nazi Hitler membaca buku ini. Alhasil, begitu dahsyatnya pembunuhan yang terjadi pada saat itu.

Sekarang saya ingin bertanya, jika kita pergi ke mall, di sana terdapat banyak toko baju. Kita mencari baju yang cocok untuk kita atau seseorang. Di satu mall, mungkinkah kita tidak menemukan baju yang kita sukai? Saya yakin, sangat kecil kemungkinannya. Kalaupun ada, kemungkinan baju tersebut memang belum diproduksi. Selama baju tersebut diproduksi, tentu di sebuah mall pasti ada.

Artinya apa? Dengan memiliki kuantitas karya yang banyak, tidak mungkinkah di antara karya-karya tersebut akan ada yang berkualitas? Semakin banyak karya yang dihasilkan, semakin besar pula kemungkinan keberadaan karya yang berkualitas. Semakin banyak pilihan, semakin banyak pula kemungkinan yang sesuai dengan pilihan.

Sebaliknya, kalau jumlah kuantitas karya kita sedikit, kemungkinan jumlah karya yang berkualitas juga sedikit. Katakan, kita memiliki satu tulisan yang bagus. Satu artikel dengan panjang 2-3 halaman. Tapi, hanya satu. Bisakah menjadi buku? Ah, pasti bercanda. Untuk dijadikan buku nikah saja tidak cukup.

Saya ingin menegaskan lagi, sampah saja bisa jadi kompos. Masa naskah tidak? Tapi, untuk menjadi kompos, jumlah sampahnya harus banyak. Kalau sampahnya hanya satu, misalnya selembar daun, ya bagaimana mau dijadikan kompos?

Oleh karena itu, kuantitas itu penting. Utamakan kuantitas, sebelum kualitas. Semakin banyak kuantitas karya kita, semakin besar kemungkinan karya berkualitas kita. Maka, sekali lagi, tidak perlu terlalu pusing memikirkan kualitas karya. Sekarang, berkarya saja sebanyak-banyaknya agar kuantitas karya kita meningkat. Setelah itu, baru pilih yang berkualitas. Pilah dan pilih, lalu kumpulkan dan terbitkan. Kalau kuantitas karya kita sedikit, apa yang mau dipilih?

Jadi, kesimpulannya hanya satu, utamakan kuantitas terlebih dahulu. Baru kemudian berbicara kualitas. Ini adalah teori kemungkinan yang amat penting dalam dunia kepenulisan dan dunia kreatif. Jangan tunggu lagi, segeralah berkarya! Eh, malah bengong!

Surabaya, 14 Februari 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Setuju Mas Syaiful, saya termasuk orang yang baru belajar menulis tapi tulisan saya masih kering, tidak bergizi dan kurang berkualitas, tapi saya imbangi dengan memperbanyak menulis di Gurusiana agar semakin terasah, karena setiap ada komen, berarti saya harus memperbaiki tulisan saya, bagaimana kita bisa tahu kulaitas tulisan kita kalau tidak sering mengshare tulisan kita, makasih atas sarapan paginya yang penuh gizi dan berkualitas

14 Feb
Balas

That's right, Pak. Lagi pula, bagaimana tulisan kita bisa berkualitas kalau tidak pernah menulis. Hehe. Semoga bermanfaat tulisan pendek ini, Pak.

14 Feb

Setuju Mas Syaiful...terima kasih tipsnya

14 Feb
Balas

Semoga bermanfaat, Bu.

14 Feb

Mantap,, menggugah selera!! Hehe

14 Feb
Balas

Tanpa sengaja judul tulisan saya kontraproduktif dengan judul mas saiful.. karena saya tetingat ucapan mas yasin dan mas saiful.. ketika menunggu bis menuju surabaya. Serta makan malam waktu dikampung inggris..kita diskiusi panjang lebar tentang menulis..

14 Feb
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali