Syaiful Rahman

Syaiful Rahman adalah editor dan trainer MediaGuru. Saat ini baru menulis 14 buku. Ia dapat dihubungi melalui syaiful@gurusiana.id atau 081915522463....

Selengkapnya
MENANAMKAN KECERDASAN EMOSIONAL

MENANAMKAN KECERDASAN EMOSIONAL

Untuk masalah kecerdasan intelektual (IQ), mungkin anak zaman sekarang tidak terlalu dikhawatirkan. Berbagai fasilitas telah tersedia untuk melatih dan mengembangkan kecerdasan tersebut. Internet telah menyodorkan ratusan juta informasi dan pengetahuan.

Namun, publik seringkali risau melihat perkembangan generasi yang "dianggap" kurang cakap bersosialisasi dan berkomunikasi. Dalam perbincangan-perbincangan santai selalu muncul istilah "anak sekarang kurang sopan", "sekarang sudah terjadi degradasi moral", dan sebagainya.

Hal ini semakin diperparah dengan hadirnya game-game yang menarik anak-anak ke ruang individualisme. Ditambah lagi, intensitas ngobrol di keluarga sangat renggang sebab kesibukan masing-masing. Alhasil, dunia game--yang seringkali sarat dengan komunikasi misuh--terbawa ke dunia pergaulan sosial bermasyarakat.

Menurut beberapa penelitian, menulis dapat dijadikan solusi mengembangkan kecerdasan emosional anak. Kemampuan berkomunikasi, kemampuan bersosialisasi, kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain, dan kemampuan menemukan jati diri dapat dibina lewat menulis.

Pada prinsipnya, menulis adalah mengeluarkan apa yang menjadi isi dalam diri. Pengetahuan, sikap, sifat, dan karakter akan tercermin dari tulisan yang dihasilkan. Terkadang, seseorang susah mengenali itu semua, meskipun semua itu ada dalam dirinya. Namun, ketika menulis, pengetahuan, sikap, sifat, dan karakter menjadi terang benderang, khususnya bagi penulis itu sendiri.

Demikian pula, para penulis dituntut untuk memahami karakter orang lain yang sangat beragam. Apalagi bagi penulis karya sastra yang melibatkan beberapa tokoh. Tanpa mempelajari karakter orang lain, tentu akan sulit memberikan penokohan pada tokoh karyanya.

Menulis adalah media komunikasi nonverbal. Penulis akan berusaha memilih dan menyusun kata-kata dengan baik dalam tulisannya. Untuk melakukan ini, tidak hanya dibutuhkan kosakata yang banyak, tapi juga kemampuan seni yang baik.

Nah, hal-hal di atas sebenarnya menunjukkan bahwa menulis dapat mengembangkan kecerdasan emosional. Secara bertahap, anak yang rutin menulis akan mampu memahami dirinya sendiri dan orang lain, mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu bersosialisasi dengan baik.

Itulah mengapa anak-anak perlu diajari menulis sejak dini. Dalam sebuah vlog saya pernah menyaksikan, di AS, anak usia tiga tahun sudah diajari membuat buku. Mereka sudah diajari membuat buku-buku bergambar, diajari mengomunikasikan karyanya, diajari berpikir kreatif.

Surabaya, 11 Januari 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali