Syaiful Rahman

Syaiful Rahman adalah editor dan trainer MediaGuru. Saat ini baru menulis 14 buku. Ia dapat dihubungi melalui syaiful@gurusiana.id atau 081915522463....

Selengkapnya

Kompos Naskah

Pernahkah merasa minder dengan tulisan yang kita hasilkan? Kita tidak percaya diri. Kita menganggap, tulisan kita buruk, tidak bagus, dan tidak layak dibaca orang. Jika di antara pembaca ada yang pernah merasakan hal itu, berarti saya sedang berbicara dengan orang yang tepat. Tapi, jika di antara pembaca belum pernah mengalaminya, berarti ini akan menjadi pengetahuan baru.

Perasaan semacam itu sering kali menghinggapi penulis, khususnya penulis pemula. Itu normal dan wajar. Oleh karena itu, saya ingin menuturkan cerita ini agar siapa pun yang ingin belajar menulis bisa segera menghasilkan dan menerbitkan buku. Hal ini penting karena apabila perasaan ini dibiarkan menjamur, kita tidak akan pernah bisa menghasilkan sebuah buku.

Prinsip pertama yang ingin saya sampaikan adalah sampah. Semua dari kita tahu tentang sampah. Secara sederhana, sampah adalah sesuatu yang tidak berguna. Ketika kita menyebut kata sampah, yang terbayang di benak adalah sesuatu yang busuk, bau, dan harus segera disingkirkan.

Tapi, bukankah kita pernah mendengar kata reuse (menggunakan kembali) dan recycle (mendaur ulang)? Dalam dunia persampahan, maksud dari dua kata itu sangat penting. Yakni, bagaimana agar sampah-sampah tersebut dapat digunakan kembali, baik digunakan secara langsung atau didaur ulang sehingga menjadi barang baru.

Di dalam dunia kepenulisan pun hal semacam itu bisa digunakan. Yakni, bagaimana agar tulisan-tulisan yang tercecer atau kita anggap tidak penting dapat digunakan kembali. Bagaimana agar tulisan-tulisan tersebut bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang baru sehingga menjadi ide yang baru. Mengenai ini, saya akan menjelaskan pada tulisan berikutnya.

Sekarang kita harus segera beranjak pada prinsip kedua, yaitu kompos. Kompos sangat dikenal dalam kehidupan kita, khususnya dalam kehidupan pertanian. Apa itu? Singkatnya, kompos adalah pupuk yang terbuat dari sampah.

Coba kita bayangkan, sampah, sesuatu yang pada mulanya kita anggap tidak berguna dan busuk, ternyata bisa menjadi pupuk. Kita tahu bahwa pupuk adalah sesuatu yang amat penting dan justru dapat menyuburkan tanaman.

Nah, inilah yang ingin saya tegaskan, jika sampah saja bisa dijadikan kompos, kenapa tulisan tidak? Artinya, seburuk apa pun tulisan yang kita hasilkan, kita tidak perlu merasa minder atau tidak percaya diri. Teruslah menulis sebanyak-banyaknya. Ketika tulisan itu banyak, kita bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang menakjubkan, yakni menjadi sebuah buku.

Saran penting dari saya adalah berhentilah membayangkan sebuah tulisan yang sempurna. Berhenti pula mencaci tulisan sendiri, jika itu membuat diri kita semakin tidak percaya diri. Bangunlah prinsip, saat ini, yang penting menulis. Yakinlah, suatu saat baru menulis yang penting. Saya ulangi: yang penting menulis, menulis yang penting. Jangan dibalik, nanti malah tidak menulis.

Apakah kita masih mau bertanya, apakah tulisan kita bisa jadi kompos? Stop! Berhentilah bertanya dan mulailah menulis. Ingat, tak ada kompos tanpa sampah! Begitu juga, tak ada buku tanpa naskah.

Surabaya, 13 Februari 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Iya kadang saya minder dengan tulisan di SPN. Tulisannya super bagus. Sedangkan diri saya hee kadang kurang mutu hee

13 Feb
Balas

Hehehe sama-sama belajar, Bu.

13 Feb

Cara keren membangkitkan semangat bersama. Makasih

13 Feb
Balas

Semoga bermanfaat, Bu.

13 Feb

Bermanfaat sekali pak, utamanya bagi saya, penulis pemula yang tulisannya masih sangat dangkal.Saya ingat pesan bapak, yang penting menulis, itu OK. Tapi bagaimana dengan yang kedua , menulis yang penting. Yang tidak penting tidak usah ditulis, begitukah maksudnya? Makasih.

13 Feb
Balas

Intinya, yang penting menulis saja dulu, Bu. Tidak perlu memikirkan ini penting atau tidak. Bisa jadi, apa yang menurut kita penting, tapi bagi orang lain tidak penting. Sebaliknya, kadang yang menurut kita tidak penting, justru bagi orang lain penting. Jadi, gak usah dipikirkan penting atau tidaknya. Yang penting nulis aja dulu.

13 Feb

Jadi semangat tuk menulis lagi

13 Feb
Balas

Alhamdulillah..... ayo semangaaaattt

13 Feb

Jadi semangat tuk menulis lagi

13 Feb
Balas

Jadi semangat tuk menulis lagi

13 Feb
Balas

Jadi semangat tuk menulis lagi

13 Feb
Balas

Jadi semangat tuk menulis lagi

13 Feb
Balas

Menulis dan menulis

13 Feb
Balas

mantap

13 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali